SELAMAT DATANG !

Sukses Buat Kita!!

Rabu, 04 Januari 2012

Laporan Tugas Irigasi

TUGAS PRAKTIKUM

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Irigasi

Irigasi adalah penambahan kekurangan air tanah secara buatan dengan memberikan air secara sistematis pada tanah yang diolah untuk menunjang curah hujan yang tidak cukup agar tersedia lengas pertumbuhan tanaman. Perlu diingat bahwa dalam pemberian air tidak boleh sampai berlebihan (melebihi kebutuhan air yang diperlukan tanaman) karena kebutuhan air yang berlebihan akan merusak tanaman.

Usaha – usaha irigasi meliputi penyedian sarana dan prasarana untuk membagikan air berupa saluran pemberi dan untuk membuang air kelebihan berupa saluran drainase. Dalam pembuatan saluran pemberi harus didasarkan pada kebutuhan air maksimum untuk menghindari kekurangan air pada areal irigasi. Sedangkan pembuatan untuk saluran drainase didasarkan pada jumlah air yang harus dibuang dalam jangka waktu tertentu untuk menghindari kelebihan air pada areal irigasi.


1.2. Tujuan Irigasi

Secara langsung tujuan irigasi adalah membasahi tanah. Sedangkan tujuan tak langsung adalah :

- Mengatur suhu tanah

- Membersihkan tanah

- Memberantas hama

- Mempertinggi permukaan tanah

- Menimbun tanah rendah

1.3. Sumber Air Irigasi

Sumber air irigasi adalah sungai – sungai kecil, danau – danau, rawa – rawa, mata air tanah dan lain – lain. Akan tetapi bersarnya air yang terjadi adalah berbeda dan tergantung dari musim dan lokasinya. Jadi besarnya air yang tersedia menjadi sumber air daerah yang dirancang adalah besarnya air yang ada dikurangi besarnya air yang telah digunakan berdasarkan peraturan air.

Harga minimum berat air yang tersedia juga menjadi indeks untuk menelaah tersedianya sumber air. Jika besarnya air yang diperlukan itu tidak dapat disediakan oleh sumber air yang tersedia maka untuk meningkatkan harga minimum yang tersedia harus dipikirkan kemungkinannya mengenai pembangunan waduk yang tidak menyuplai air yang tidak efektif dari sumber air itu.

Lokasi sumber air dan pengambilan sumber air itu adalah faktor – faktor yang penting akan sangat mempengaruhi skala dari fasilitas penyaluran air itu harus ditelaah dengan memperhatikan kondisi – kondisi dasar sebagai berikut :

- Debit air minimum yang tersedia adalah besar .

- Jumlah air yang tersedia adalah besar.

- Kualitas dan suhu air yang baik.

- Pengambilannya yang mudah.

- Lokasinya didekat daerah yang akan di irigasi.

1.4. Cara Pemberian Air Irigasi dan Drainase

a. Cara pemberian air irigasi

Sesudah lokasi sumber air dan pengambilan sudah ditentukan, maka selanjutnya harus diadakan penentuan mengenai cara penyaluran air itu ke daerah atau petak – petak yang di tanami.

Penyaluran hanya dapat dilakukan dengan pompa jika daerah yang akan dialiri lebih tinggi dari sumber air. Kadang – kadang meskipun sumber Biasanya untuk debit yang besar saluran terbuka adalah lebih ekonomis.

Adapun untuk lebih jelasnya pemberian air dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok, ditinjau dari salurannya.

1. Lewat permukaan.

Cara pemberian air irigasi lewat permukaan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

- Perluapan dan penggenangan bebas (efesiensi rendah).

- Perluapan dan penggenangan terkendali

- Sistem kalenan

- Sistem cekungan

2. Melalui bawah permukaan

- Saluran terbuka

- Dengan pipa berperporasi

3. Pemberian air dengan pancaran

- Dengan pipa berperporasi

- Alat pancar berputar

4. Pemberian air dengan tetesan

Sedangkan ditinjau dari alirannya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

- Irigasi aliran yang kontinyu

Cara ini adalah pemberian air irigasi secara kontinyu selama piriode irigasi. Cara ini diterapkan untuk daerah – derah dimana irigasi itu berlimpah – limpah. Cara ini tidak ekonomis karena perkolasi dan limpasan permukaan yang banyak.

- Irigasi terputus – putus

Memberikan air secara terputus – putus pada interval tertentu selama beberapa hari. Cara ini diterapkan untuk daerah – daerah yang tidak mempunyai irigasi yang berlimpah. Kebanyakan irigasi pompa atau waduk menerapkan cara ini.

- Irigasi aliran balik (return flow irigation)

Adalah cara mempertinggi pegunungan berulang – ulang yang kadang

- Kadang dilaksanakan didaerah yang sangat kekurangan air irigasi, cara berulang – ulang adalah hanya menggunakan air yang tersisa dari bagian atas pada bagian bawah.

b. Metode Drainase

Sistem drainase pada umumnya berupa sistem drainase permukaan yang berupa saluran terbuka atau parit yang dibuat berdasarkan perhitungan, namun pada keadaan khusus saluran drainase dapat berupa drainase bawah tanah. Untuk drainase daerah pantai biasanya digunaan saluran terbuka. Dalam drainase daerah pantai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

- Terhambatnya aliran dari sungai ke laut ditijau masalah kemungkinan terjadi luapan.

- Kenaikan muka air tanah

- Kemungkinan mengalirkan air kelebihan dari petak yang satu ke petak sawah yang lain.

- Hujan.

- Rembesan air laut.

- Pengaruh nyata dari pasangan surut

1.5. Macam – macam Bangunan

Banyak bangunan yang diperlukan untuk pengoprasian yang efektif dari sistem saluran parit yang sulit dalam satu proyek irigasi.

a. Saluran – saluran parit

Elevasi dari parit lapangan harus cukup untuk memungkinkan aliran gaya berat lapangan. Oleh karenanya parit - parit jarang digali sepenuhnya, tetapi di buat dalam tanggul – tanggul yang datar. Dalam pembuatan parit – parit perlu diperhatikan beberapa hal antara lain :

- Dimensi dan bentuk saluran perlu diperhatikan agar dapat saluran yang stabil.

- Perencanaan dimensi dan bentuk memperhitungkan kecepatan aliran erosi, sedimentasi maupun kelongsoran tebing saluran irigasi.

- Kecepatan terpakai atau perencanaan harus lebih kecil dari kecepatan erosi tetapi masih lebih besar dari kecepatan transport sedimen , tetapi aliran air masih mampu melakukan transport sedimen yang berarti menghindari pengendapan.

- Rute saluran pada umumnya mencirikan saluran yang tersedia yaitu kemiringan tanah yang tersedia dalam hal ini saluran dapat berupa saluran punggung maupun saluran tranche.

b. Tanggul Saluran

Tanggul saluran dapat berfungsi sebagai jalan inspeksi untuk melayani lalu lintas ringan pada daerah layanan di irigasi dan lain – lain. Pada umumnya tanggul saluran dibutuhkan tinggi cadangan pada freeboard dengan tinggi 0,5 m. namun bila kondisi sekitar daerah sangat rendah dibandingkan muka air saluran atau pada daerah – daerah yang sering tergenang banjir diperlukan saluran dengan tinggi lebih besar dari 50 m.

c. Bangunan Pembagi

Bangunan pembagi dipergunakan untuk membagi aliran ke berbagai saluran. Bangunan pada saluran besar terbagi menjadi tiga bagian utama :

- Alat pembendung saluran besar

Dengan alat ini maka air pada saluran besar setiap waktu dapat diatur sesuai tinggi pelayanan yang direncanakan.

- Perlengkapan untuk jalan air melintasi tanggul saluran besar menuju saluran cabang.

- Konstruksi ukur

Konstruksi ukur ini berfungsi untuk mengukur debit air yang lewat sedangkan untuk bangunan pembagi pada saluran kecil bisa dibuat secara sederhana saja , bangunan ini berupa bak saja atau bak tersier dan kuarter.

- Pintu – pintu air.

- Pipa – pipa irigasi

Digunakan untuk menghin dari kehilangan air serta biaya tahunan dari biaya tahunan dari bangunan parit – parit, kebanyakan petani bergeser kepemakaian jaringan distribusi pipa untuk mengairi lahan pertanian.

1.6. Susunan Petak – petak

a. Petak primer

Petak primer adalah petak yang mencakup saluran areal irigasi, petak ini dialiri oleh saluran primer. Satu petak atau saluran primer dapat terdiri dari beberapa petak atau saluran sekunder.

b. Petak Sekunder

Petak sekunder merupakan luasan irigasi yang dialiri oleh saluran sekunder, dalam satu petak atau saluran sekunder dapat terdiri dari beberapa petak atau saluran tersier.

c. Petak tersier

Petak tersier meliputi luas yang dialiri oleh saluran tersier. Satu petak tersier dapat terdiri dari beberapa petak kuarter. Bentuk dan luas petak tersier mendekati empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar antara satu sampai setengah.

Luas petak tersier yang dianjurkan pada keadaan normal dapat dibagi menjadi beberapa keadaan :

- Pada tanah dasar luasnya 200-300 ha.

- Pada tanah agak miring luasnya 100-200 ha.

- Pada tanah perbukitan luasnya 50-100 ha.

Contoh kriteria petak tersier :

- Luas petak tersier terdapat keseragaman.

- Pemberian air untuk suatu petak tersier harus melalui suatu tempat dan dapat diatur dan diukur dengan baik.

- Batas – batas petak tersier harus jelas dan tegas.

- Semua bidang sawah dalam petak tersier itu harus dapat menerima air dari tempat pemberian air.

- Petak tersier diharapkan merupakan satu kesatuan yang dimiliki satu desa saja.

- Air kelebihan yang tidak digunakan harus dibuang dengan baik melalui saluran drainase ayng terpisah dengan saluran primer.

- Batas – batas petak tersier diusahakan menggunakan batas – batas petak yang sama yang semula ada. Misalnya : parit alam, jalan desa, jalan raya, jalan kereta api, dan lain – lain.

d. Petak kuarter

Petak kuarter dialiri oleh saluran kuarter namun pada kenyatannya petak kuarter ini jarang ada.

1.7. Perhitungan Dimensi

Dimensi saluran ditantukan berdasarkan debit air yang lewat. Besar debit air tersebut harus diperhitungkan juga kehilangan – kehilangan air selama perjalan menuju petak sawah.

Bentuk saluran yang digunakan umumnya trapesium. Dimensi saluran pemberi dikelompokan menjadi tujuh tipe saluran. Dalam perencanaan dimensi digunakan hubungan dengan Q dari steven. Jadi adalah fungsi dari Q.

Q (m3 /dt)

B/h

V (m/dt)

M

0,0 – 0,5

0,5 – 1,5

1,5 – 3,0

3,0 – 4,5

4,5 – 6,0

6,0 – 7,5

7,5 – 9,0

9,0 – 11

11 – 15

1,5 – 2,5

1,5

2,0

2,5

3,0

3,5

4,0

4,5

5,0

6,0

8,0

0,30 – 0,45

0,45 – 0,50

0,55 – 0,60

0,60 – 0,65

0,65 – 0,70

0,70 – 0,75

0,75 – 0,80

0,80 – 0,85

0,85 – 0,90

0,90 – 0,95

1

1

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

Kemudian kecepatan alirannya dapat digunakan rumus Steven :

V = 0.410 Q0.225

Sedangkan kemiringan saluran dapat dihitung dengan menggunakan rumus Chezy : V = C

I =

Keterangan : Q : Debit saluran

V : kecepatan aliran

C : koefisien Chezy ( 45 menit m/detik)

R : jari – jari hidrolik

R = ; F =

K = keliling basah (m)

I : kemiringan dasar.

Kemiringan dinding saluran disesuaikan dengan jenis pada lokasi atau tempat yang bersangkutan, seperti :

- Untuk tanah cadas

- Untuk tanah lempung

- Untuk tanah liat

- Untuk tanah endapan

- Untuk tanah endapan pasir

- Untuk tanah pasir

Dari hasil evaluasi hidrologi dipilih curah hujan terbesar sebagai dasar penentuan kapasitas saluran. Bila debit sudah diketahui maka luas tampangnya dapat dicari :

A = A = h (h+mh)

P = ­

Selanjutnya dimensi saluran drainase dapat dihitung. Dalam hal ini perlu diperhatikan dalam memilih kecepatan yang tidak mengganggu stabilitas tanah.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar