SELAMAT DATANG !

Sukses Buat Kita!!

Rabu, 04 Januari 2012

tugas MID Drainase Pengendalian Banjir

Nama : Aulia Azam

NIM : 0903010018

Teknik Sipil

1.Jelaskan pengertian banjir menurut ilmu hidrologi! Uraikan jawaban saudara menggunakan sketsa`gambar seperlunya.

Jawab

Dari Penertian Hidrologi Yaitu Segalasesuatu yang mempelajari air dalam segala bentuknya (cairan, gas, pada) pada, dalam, dan di atas permukaan tanah. Termasuk di dalamnya adalah penyebaran daur dan perilakunya serta hubungannya dengan unsure-unsur hidup dalam air itu sendiri. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (Catchment Area) yang merupakan ekosistem dengan unsure utamanya terdiri dari sumberdaya alam (tanah, air, dan vegetasi) dan sumber daya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam

Banjir dari sudut pandang proses hidrologi diartikan terjadinya laju aliran (debit) atau muka air yang besar melampaui kondisi normal yang mengakibatkan terlampauinya kapasitas alur (sungai atau saluran) sehingga terjadi genangan. Banjir dapat terjadi pada wilayah yang belum maupun yang telah memiliki infrastruktur sistem pengendalian banjir. Dengan demikian perlu dibedakan penyebab kejadian banjir: kejadian alam, lemahnya kinerja sistem pengendalian banjir atau terlampauinya kapasitas sistem pengendalian banjir.

2.jelaskan secara lengkap, mengapa pengelolaan DAS yang baik akan dapat mengurangi resiko banjir . jelaskan pula kaitan dengan pemahaman Q max/Qmin pada suatu DAS. Uraikan jawaban saudara disertai sketsa gambar yang diperlukan.

Jawab

Sebagaimana Penertian (DAS) menurut Dictionary of Scientific and Technical Term (Lapedes et al ., 1974), DAS (Watershed) diartikan sebagai suatu kawasan yang mengalirkan air kesatu sungai utama. Dikemukakan oleh Manan (1978) bahwa DAS adalah suatu wilayah penerima air hujan yang dibatasi oleh punggung bukit atau gunung, dimana semua curah hujan yang jatuh diatasnya akan mengalir di sungai utama dan akhirnya bermuara kelaut.

pengelolaan DAS ( daerah ailiran sungai ) yang baik akan dapat mengurangi resiko banjir karena peranan DAS itu penting sebagai sistim aliran untuk mencegah terjadinya hal – hal yang merugikan masyarakat pada umumnya seperti masalah banjir. Dalam hal ini pengelolaan DAS itu menjadi penting peranan semua aspek yang terlibat didalamnya ( masyarakat setempat, Pemerintahan Dll ), DAS yang baik itu harus sesuai tata letak yang benar dan jarak dari bantaran ke pemukiman masyarakat harus jauh karena mengindari banjir yang mungkin sampai ke bantaran.

Pengelolaan DAS adalah suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat manipulasi sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di daerah aliran sungai untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya air dan tanah. Ia mempunyai arti sebagai pengelolaan dan alokasi sumberdaya alam di daerah aliran sungai termasuk pencegahan banjir dan erosi, serta perlindungan nilai keindahan yang berkaitan dengan sumberdaya alam. Termasuk pengelolaan DAS adalah identifikasi keterkaitan antara tataguna lahan, tanah dan air, dan keterkaitan antara daerah hulu dan hilir suatu DAS. Pengelolaan DAS perlu mempertimbangkan aspek-aspek social, ekonomi, budaya dan kelembagaan yang beroperasi di dalam dan di luar daerah aliran sungai yang bersangkutan

Dalam rangka memberikan gambaran keterkaitan secara menyeluruh dalam pengelolaan

DAS, terlebih dahulu diperlukan batasan-batasan mengenai DAS berdasarkan fungsi, yaitu

pertama

DAS bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.

Kedua

DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.

Ketiga

DAS bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.

Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang terkelola dengan baik dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh prasarana dan sarana di bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS tersebut di bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya rentang panjang DAS yang begitu luas, baik secara administrasi maupun tata ruang, dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya koordinasi berbagai pihak terkait baik lintas sektoral maupun lintas daerah secara baik.

Usaha-usaha menjaga kelestarian lingkungan DAS:

  1. Mengusahakan DAS daerah hulu sebagai penyangga, dapat tertutup, oleh vegetasi pelindung, dengan tujuan:
    1. menjaga agar debit sungai antara musim penghujan dan kemarau dapat terkendali,
    2. menjaga supaya terhindar banjir,
    3. menjaga supaya daerah bagian hulu tidak terjadi erosi yang kuat.

2. Mengusahakan DAS bagian hilir dapat terhindar dari berbagai bentuk polusi.

3.jelaskan dan uraikan upaya – upaya pengelolaan banjir secara menyeluruh!

Jawab

- Solusi banjir untuk jangka pendek

· Membuat danau buatan, waduk atau embung, di beberapa tempat termasuk di tengah kota, untuk menampung air kelebihan air hujan dan dimanfaatkan di musim kemarau.

· Lalu, membuat gorong-gorong atau saluran yang memadai dan airnya tidak dialirkan ke laut tapi ditampung di danau atau waduk atau embung dsb untuk dipakai lagi di musim kemarau.

· Pembuatan sumur resapan supaya mempercepat aliran air

· Memfungsikan situ-situ yang ada karean untuk mengembalikan keseimbangan air seperti semula

- Solusi banjir untuk jangka panjang

· Perkembangan pemanfaatan ruang pada satuan-satuan wilayah sungai di Indonesia telah berada pada kondisi yang mengkhawatirkan seiring dengan meluasnya bencana yang terjadi – khususnya banjir dan longsor – yang dengan sendirinya mengancam keberlanjutan pembangunan nasional jangka panjang.

Sistem kelembagaan pengelolaan DAS yang terpadu dan terintegrasi dengan memanfaatkan potensi-potensi yang telah berkembang di masyarakat, dan kerjasama dengan aparat penegak hukum

Pengembang perumahan juga harusnya tidak menguruk situ-situ yang tersisa, tetapi mereka justru harus membangun situ atau kolam pancing di situ-situ yang mulai kering. Sehingga jangan heran jika banyak perumahan sekarang, bukan lagi kawasan bebas banjir, tapi kawasan banjir bebas masuk”

upaya – upaya pengelolaan banjir secara menyeluruh yaitu

pertama kita harus mengetahui Prinsip dasar pengelolaan banjir menyeluruh:

1. pembangunan yang berkelanjutan

2. perolehan manfaat yang maksimal pada areal rawan banjir

3. meminimalkan potensi kerugian/kehilangan bagi kehidupan masyarakat di areal rawan banjir

4. pelestarian lingkungan

dalam lingkup SDA yaitu :

U p a y a

Merencanakan

Melaksanakan

Memantau

Mengevaluasi

- Konservasi SDA:

  1. Perlindungan dan pelestarian SA
  2. Pengawetan air
  3. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air

Menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi SDA

- Pendayagunaan SDA:

  1. Penatagunaan
  2. Penyediaan
  3. Penggunaan
  4. Pengembangan
  5. Pengusahaan

Memanfaatkan SDA secara berkelanjutan dg mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil

- Pengendalian Daya Rusak Air:

  1. Pencegahan
  2. Penanggulangan
  3. Pemulihan

Mencegah, menanggulangi, dan memulihkan akibat kerusakan kualitas lingkungan akibat daya rusak air

Dan harus penanggulangan & Pengendalian banjir

- Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh mencakup upaya pencegahan, penanggulangan dan pemulihan; diutamakan pada upaya pencegahan dan dengan melibatkan masyarakat.

- Pengendalian daya rusak air menjadi tanggung jawab Pemerintah, pemda, pengelola SDA WS dan masyarakat.

- Pencegahan dilakukan melalui kegiatan fisik dan nonfisik yang diutamakan pada kegiatan nonfisik/ nonstruktur, serta penyeimbangan hulu-hilir.

- Penanggulangan daya rusak air dilakukan dengan mitigasi bencana secara terpadu oleh instansi terkait dan masyarakat melalui badan koordinasi PB nasional, provinsi dan kabupaten/kota.

- Pemulihan daya rusak air dilakukan dgn memulihkan kembali sistem prasarana SDA.

4.jelaskan mengenai peran kegiatan non structural dalam pengelolaan banjir !

Jawab:

- Prakiraan banjir dan peringatan dini

- Penanggulangan banjir (FLOOD FIGHTING), EVAKUASI

- Pemindahan / relokasi

- Pengelolaan dataran banjir (FLOOD PLAIN / RISK MNAGEMENT),

- FLOOD PROOFING terhadap bangunan

- Tata ruang, penghijauan, reboisasi dan DAL. erosi DAS

- RETENTION & DETENTION PONDS

- Penempatan sempadan sungai

- Informasi public dan penyuluruhan

- Penegakan hukum

- Pengentasan kemiskinan

- Manajement sampah

Atau

Pengendalian banjir dan kekeringan secara non struktural terdiri dari:

1. Regulasi terkait pengendalian banjir dan kekeringan: Regulasi Tata Ruang Nasional (RTRWN) tanggung jawab Pemerintah Pusat, RTRW Provinsi tanggung jawab PEMDA Provinsi, RTRW Kabuapten/Kota tanggung jawab PEMDA Kabupaten/Kota; Regulasi Sumberdaya air dan regulasi Kehutanan, Regulasi Pengelolaan Lingkungan Hidup, Regulasi Konservasi Sumberdaya Alam Hayati, dan Regulasi Penanggulangan Bencana, masing-masing berturut-turut: ditingkat Pusat tanggung jawab Departemen PU, dan Departemen Kehutanan, KLH, Badan Koordinasi Penannggulangan Bencana Nasional, di tingkat Provinsi tanggung jawab PEMDA Provinsi dan di tingkat Kabuapaten/Kota tannggung jawab Pemda Kabupaten/Kota.

2. Pemberdayaan masyarakat terdiri dari: Sosialiasi Regulasi terkait pengendalian banjir dan kekeringan, Peningkatan peran masyarakat sebagai pengguna dan pelindung sumberdaya air, Pelatihan terkait penanggulangan bencanan kepada masyarakat, Pengembangan ketrampilan masyarakat dan Penyediaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi masyarakat adalah merupakan tanggung Pemerintah Pusat dan Daerah.

3. Penguatan institusi (sistem) pengendalian banjir dan kekeringan terdiri dari: Pengembangan sumberdaya manusia institusi pemerintah terkait pengendalian banjir dan kekeringan, Koordinasi dan kolabarasi antar departemen, antar pemerintah pusat dan daerah, dan antar daerah, Pengembangan sistem informasi terkait pengendalian banjir dan kekeringan adalah merupakan tanggung jawab litas sektoral antara Departemen terkait di tingkat Pusat dan Dinas terkait di tingkat Provinsi dan di tingkat Kabuapaten/Kota.

Laporan Tugas Irigasi

TUGAS PRAKTIKUM

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Irigasi

Irigasi adalah penambahan kekurangan air tanah secara buatan dengan memberikan air secara sistematis pada tanah yang diolah untuk menunjang curah hujan yang tidak cukup agar tersedia lengas pertumbuhan tanaman. Perlu diingat bahwa dalam pemberian air tidak boleh sampai berlebihan (melebihi kebutuhan air yang diperlukan tanaman) karena kebutuhan air yang berlebihan akan merusak tanaman.

Usaha – usaha irigasi meliputi penyedian sarana dan prasarana untuk membagikan air berupa saluran pemberi dan untuk membuang air kelebihan berupa saluran drainase. Dalam pembuatan saluran pemberi harus didasarkan pada kebutuhan air maksimum untuk menghindari kekurangan air pada areal irigasi. Sedangkan pembuatan untuk saluran drainase didasarkan pada jumlah air yang harus dibuang dalam jangka waktu tertentu untuk menghindari kelebihan air pada areal irigasi.


1.2. Tujuan Irigasi

Secara langsung tujuan irigasi adalah membasahi tanah. Sedangkan tujuan tak langsung adalah :

- Mengatur suhu tanah

- Membersihkan tanah

- Memberantas hama

- Mempertinggi permukaan tanah

- Menimbun tanah rendah

1.3. Sumber Air Irigasi

Sumber air irigasi adalah sungai – sungai kecil, danau – danau, rawa – rawa, mata air tanah dan lain – lain. Akan tetapi bersarnya air yang terjadi adalah berbeda dan tergantung dari musim dan lokasinya. Jadi besarnya air yang tersedia menjadi sumber air daerah yang dirancang adalah besarnya air yang ada dikurangi besarnya air yang telah digunakan berdasarkan peraturan air.

Harga minimum berat air yang tersedia juga menjadi indeks untuk menelaah tersedianya sumber air. Jika besarnya air yang diperlukan itu tidak dapat disediakan oleh sumber air yang tersedia maka untuk meningkatkan harga minimum yang tersedia harus dipikirkan kemungkinannya mengenai pembangunan waduk yang tidak menyuplai air yang tidak efektif dari sumber air itu.

Lokasi sumber air dan pengambilan sumber air itu adalah faktor – faktor yang penting akan sangat mempengaruhi skala dari fasilitas penyaluran air itu harus ditelaah dengan memperhatikan kondisi – kondisi dasar sebagai berikut :

- Debit air minimum yang tersedia adalah besar .

- Jumlah air yang tersedia adalah besar.

- Kualitas dan suhu air yang baik.

- Pengambilannya yang mudah.

- Lokasinya didekat daerah yang akan di irigasi.

1.4. Cara Pemberian Air Irigasi dan Drainase

a. Cara pemberian air irigasi

Sesudah lokasi sumber air dan pengambilan sudah ditentukan, maka selanjutnya harus diadakan penentuan mengenai cara penyaluran air itu ke daerah atau petak – petak yang di tanami.

Penyaluran hanya dapat dilakukan dengan pompa jika daerah yang akan dialiri lebih tinggi dari sumber air. Kadang – kadang meskipun sumber Biasanya untuk debit yang besar saluran terbuka adalah lebih ekonomis.

Adapun untuk lebih jelasnya pemberian air dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok, ditinjau dari salurannya.

1. Lewat permukaan.

Cara pemberian air irigasi lewat permukaan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

- Perluapan dan penggenangan bebas (efesiensi rendah).

- Perluapan dan penggenangan terkendali

- Sistem kalenan

- Sistem cekungan

2. Melalui bawah permukaan

- Saluran terbuka

- Dengan pipa berperporasi

3. Pemberian air dengan pancaran

- Dengan pipa berperporasi

- Alat pancar berputar

4. Pemberian air dengan tetesan

Sedangkan ditinjau dari alirannya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

- Irigasi aliran yang kontinyu

Cara ini adalah pemberian air irigasi secara kontinyu selama piriode irigasi. Cara ini diterapkan untuk daerah – derah dimana irigasi itu berlimpah – limpah. Cara ini tidak ekonomis karena perkolasi dan limpasan permukaan yang banyak.

- Irigasi terputus – putus

Memberikan air secara terputus – putus pada interval tertentu selama beberapa hari. Cara ini diterapkan untuk daerah – daerah yang tidak mempunyai irigasi yang berlimpah. Kebanyakan irigasi pompa atau waduk menerapkan cara ini.

- Irigasi aliran balik (return flow irigation)

Adalah cara mempertinggi pegunungan berulang – ulang yang kadang

- Kadang dilaksanakan didaerah yang sangat kekurangan air irigasi, cara berulang – ulang adalah hanya menggunakan air yang tersisa dari bagian atas pada bagian bawah.

b. Metode Drainase

Sistem drainase pada umumnya berupa sistem drainase permukaan yang berupa saluran terbuka atau parit yang dibuat berdasarkan perhitungan, namun pada keadaan khusus saluran drainase dapat berupa drainase bawah tanah. Untuk drainase daerah pantai biasanya digunaan saluran terbuka. Dalam drainase daerah pantai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

- Terhambatnya aliran dari sungai ke laut ditijau masalah kemungkinan terjadi luapan.

- Kenaikan muka air tanah

- Kemungkinan mengalirkan air kelebihan dari petak yang satu ke petak sawah yang lain.

- Hujan.

- Rembesan air laut.

- Pengaruh nyata dari pasangan surut

1.5. Macam – macam Bangunan

Banyak bangunan yang diperlukan untuk pengoprasian yang efektif dari sistem saluran parit yang sulit dalam satu proyek irigasi.

a. Saluran – saluran parit

Elevasi dari parit lapangan harus cukup untuk memungkinkan aliran gaya berat lapangan. Oleh karenanya parit - parit jarang digali sepenuhnya, tetapi di buat dalam tanggul – tanggul yang datar. Dalam pembuatan parit – parit perlu diperhatikan beberapa hal antara lain :

- Dimensi dan bentuk saluran perlu diperhatikan agar dapat saluran yang stabil.

- Perencanaan dimensi dan bentuk memperhitungkan kecepatan aliran erosi, sedimentasi maupun kelongsoran tebing saluran irigasi.

- Kecepatan terpakai atau perencanaan harus lebih kecil dari kecepatan erosi tetapi masih lebih besar dari kecepatan transport sedimen , tetapi aliran air masih mampu melakukan transport sedimen yang berarti menghindari pengendapan.

- Rute saluran pada umumnya mencirikan saluran yang tersedia yaitu kemiringan tanah yang tersedia dalam hal ini saluran dapat berupa saluran punggung maupun saluran tranche.

b. Tanggul Saluran

Tanggul saluran dapat berfungsi sebagai jalan inspeksi untuk melayani lalu lintas ringan pada daerah layanan di irigasi dan lain – lain. Pada umumnya tanggul saluran dibutuhkan tinggi cadangan pada freeboard dengan tinggi 0,5 m. namun bila kondisi sekitar daerah sangat rendah dibandingkan muka air saluran atau pada daerah – daerah yang sering tergenang banjir diperlukan saluran dengan tinggi lebih besar dari 50 m.

c. Bangunan Pembagi

Bangunan pembagi dipergunakan untuk membagi aliran ke berbagai saluran. Bangunan pada saluran besar terbagi menjadi tiga bagian utama :

- Alat pembendung saluran besar

Dengan alat ini maka air pada saluran besar setiap waktu dapat diatur sesuai tinggi pelayanan yang direncanakan.

- Perlengkapan untuk jalan air melintasi tanggul saluran besar menuju saluran cabang.

- Konstruksi ukur

Konstruksi ukur ini berfungsi untuk mengukur debit air yang lewat sedangkan untuk bangunan pembagi pada saluran kecil bisa dibuat secara sederhana saja , bangunan ini berupa bak saja atau bak tersier dan kuarter.

- Pintu – pintu air.

- Pipa – pipa irigasi

Digunakan untuk menghin dari kehilangan air serta biaya tahunan dari biaya tahunan dari bangunan parit – parit, kebanyakan petani bergeser kepemakaian jaringan distribusi pipa untuk mengairi lahan pertanian.

1.6. Susunan Petak – petak

a. Petak primer

Petak primer adalah petak yang mencakup saluran areal irigasi, petak ini dialiri oleh saluran primer. Satu petak atau saluran primer dapat terdiri dari beberapa petak atau saluran sekunder.

b. Petak Sekunder

Petak sekunder merupakan luasan irigasi yang dialiri oleh saluran sekunder, dalam satu petak atau saluran sekunder dapat terdiri dari beberapa petak atau saluran tersier.

c. Petak tersier

Petak tersier meliputi luas yang dialiri oleh saluran tersier. Satu petak tersier dapat terdiri dari beberapa petak kuarter. Bentuk dan luas petak tersier mendekati empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar antara satu sampai setengah.

Luas petak tersier yang dianjurkan pada keadaan normal dapat dibagi menjadi beberapa keadaan :

- Pada tanah dasar luasnya 200-300 ha.

- Pada tanah agak miring luasnya 100-200 ha.

- Pada tanah perbukitan luasnya 50-100 ha.

Contoh kriteria petak tersier :

- Luas petak tersier terdapat keseragaman.

- Pemberian air untuk suatu petak tersier harus melalui suatu tempat dan dapat diatur dan diukur dengan baik.

- Batas – batas petak tersier harus jelas dan tegas.

- Semua bidang sawah dalam petak tersier itu harus dapat menerima air dari tempat pemberian air.

- Petak tersier diharapkan merupakan satu kesatuan yang dimiliki satu desa saja.

- Air kelebihan yang tidak digunakan harus dibuang dengan baik melalui saluran drainase ayng terpisah dengan saluran primer.

- Batas – batas petak tersier diusahakan menggunakan batas – batas petak yang sama yang semula ada. Misalnya : parit alam, jalan desa, jalan raya, jalan kereta api, dan lain – lain.

d. Petak kuarter

Petak kuarter dialiri oleh saluran kuarter namun pada kenyatannya petak kuarter ini jarang ada.

1.7. Perhitungan Dimensi

Dimensi saluran ditantukan berdasarkan debit air yang lewat. Besar debit air tersebut harus diperhitungkan juga kehilangan – kehilangan air selama perjalan menuju petak sawah.

Bentuk saluran yang digunakan umumnya trapesium. Dimensi saluran pemberi dikelompokan menjadi tujuh tipe saluran. Dalam perencanaan dimensi digunakan hubungan dengan Q dari steven. Jadi adalah fungsi dari Q.

Q (m3 /dt)

B/h

V (m/dt)

M

0,0 – 0,5

0,5 – 1,5

1,5 – 3,0

3,0 – 4,5

4,5 – 6,0

6,0 – 7,5

7,5 – 9,0

9,0 – 11

11 – 15

1,5 – 2,5

1,5

2,0

2,5

3,0

3,5

4,0

4,5

5,0

6,0

8,0

0,30 – 0,45

0,45 – 0,50

0,55 – 0,60

0,60 – 0,65

0,65 – 0,70

0,70 – 0,75

0,75 – 0,80

0,80 – 0,85

0,85 – 0,90

0,90 – 0,95

1

1

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

Kemudian kecepatan alirannya dapat digunakan rumus Steven :

V = 0.410 Q0.225

Sedangkan kemiringan saluran dapat dihitung dengan menggunakan rumus Chezy : V = C

I =

Keterangan : Q : Debit saluran

V : kecepatan aliran

C : koefisien Chezy ( 45 menit m/detik)

R : jari – jari hidrolik

R = ; F =

K = keliling basah (m)

I : kemiringan dasar.

Kemiringan dinding saluran disesuaikan dengan jenis pada lokasi atau tempat yang bersangkutan, seperti :

- Untuk tanah cadas

- Untuk tanah lempung

- Untuk tanah liat

- Untuk tanah endapan

- Untuk tanah endapan pasir

- Untuk tanah pasir

Dari hasil evaluasi hidrologi dipilih curah hujan terbesar sebagai dasar penentuan kapasitas saluran. Bila debit sudah diketahui maka luas tampangnya dapat dicari :

A = A = h (h+mh)

P = ­

Selanjutnya dimensi saluran drainase dapat dihitung. Dalam hal ini perlu diperhatikan dalam memilih kecepatan yang tidak mengganggu stabilitas tanah.





Kamis, 15 Desember 2011

Mencari keyboad'is

Dibutuhkan pemain band sebagai keyboad'is untuk wilayah purwokerto.
hubungi Azam ( 087880863386 ) sampai bulan maret 2012